May 26

Refleksi

Pagi mentari bersinar terang dari ujung timur sana
Ku melihat begitu indahnya dunia yang engkau ciptakan
Waktu terus berjalan dan kakiku tersandung di batuan kecil
Tak sadar kata mengumpat melupakan nikmat indah dunia
Ternyata ku belum bisa bersyukur padaMu
Ternyata masih picik pandang pikirku
Ternyata sedikit coba ku telah kufur nikmatMu
Padahal nikmat itu belum Kau cabut

Bagaimana jika nikmat itu Kau cabut
Bisa jadi ku bukan hanya mengumpat sajalah
Bisa jadi lebih dari itu
Ataukah aku memang tak bisa syukur nikmatMu
Wahai manusia hina, renungkanlah nikmatNYA , berkata ku dalam hati

Itu baru mengumpat, bisik sayup terdengar di telinga
Tidak , berontak hatiku
Engkau syaitan yang menggoda ku
Tak tau malu aku telah begitu banyak mengingkari nikmatNYA
Tak tau malu berbuat dosa-dosa
Padahal Dia Maha Melihat dan tak pernah tertidur

Mungkinkah ku bisa menatapNYA
Dan berkata aku hambaNYA yang baik
Atau mungkin ku hanya akan tertunduk seperti hinanya tumpukan sampah di jalanan
Atau mungkin ku hanya seperti dedaunan yang diterpa angin dan terlupakan

Wahai jiwa ini
Tersadarlah walau hanya sebentar waktu yang tersisa
Siapa menjamin esok kau melihat mentari lagi
Siapa menjamin esok masih kau bisa tertawa
Siapa menjamin esok masih ada nafas

Yang baik kau dapat
Belum tentu baik untukmu
Yang buruk kau dapat
Belum tentu buruk untukmu
Nikmat adalah bersyukur dikala apapun
Bersyukur dikala baik dan buruk