Remang-remang

secercah cahaya kulihat
tapi tak begitu terang apa yang terlihat
seperti ku mengenal begitu dekat
cahaya tak begitu jelas ku lihat

maaf ternyata lampu tak begitu terang
remang-remang di pinggir jalan
melihat orang tentu tak akan jelas
atau mungkin hanya lamunang di angan

remang-remang sore itu
ku berjalan melihat dan menerka apa yang terjadi
bayang-bayang kulihat begitu cepat
ingin ku gapai tapi terasa berat di tangan
bayang-bayang di remang-remang

Kenangan

Mungkin tak begitu berharga kata kenangan
Tapi kata ini tak akan hilang dari fikir dan hati
Tapi kata ini tak hanyut oleh waktu

Kenangan dirimu dihati
Kenangan dirimu diangan
Kenangan dirimu ada padaku

Setetes air mata tak berarti sedih
Setetes air mata itu karena syukur
Setetes air mata untuk kenangan

Dalam keheningan ku dalam kenangan
Dalam kesunyian ku lantunkan doa
Dalam ketenangan ku simpan kenangan

Secarik Kertas

Putih bersih dirimu waktu itu
Ku nodai dengan tinta-tinta
Ku tuliskan beberapa kata di lembarmu
Tertulis jelas sekali hingga tak dapat ku hapus lagi

Secarik kertas putih
Kini kamu sudah tak seputih dulu
Kini banyak tulisan di lembaran mu

Waktu terus berjalan
Tulisan itu masih disana
Tapi kini sudah tak terbaca lagi
Tulisan tinggal tulisan saja
Secarik kertas menjadi saksi

Berputar

Lingkaran adakah tau titik awalnya
Ntah berantah tak ku tau titik awalnya
Ataupun ku tak tau mana akhirnya
Ya hanya melingkar adanya

Putar ku putar pena
Melingkar seolah tak ada hentinya
Berlari pada secarik kertas
Berimajinasi di alam fana

Ku coba berhenti
Ku lihat titik demi titik
Tapi ternyata tak terlihat lagi
Titik telah menjadi garis berputar
Titik tak berbekas lagi
Tinggal lingkaran yang berputar

Bayang Hitam

Kelam tak berbentuk
Tapi nyata dirimu ada
Ku coba raba dengan hati ini
Begitu hangat terasa

Bayang hitam kelam
Dimana ku berada kau selalu ada
Di kesunyian kau ada
Di keheningan kau pun ada
Bayang hitam pergilah kau dari hadapku
Tapi kau malah sembunyi dibalik badanku

Ku ingin sendiri menikmati tiap hembusan nafas
Ku ingin sendiri tanpa kau disini menghantui ku
Ku ingin dan ku ingin
Tapi kau tetap setia menyertai langkahku
Walau kau tak pernah menyapa
Tapi hangat senyummu tetap dihati ku

Rembulan

Semalam ku melihatmu dalam kesunyian
Begitu indah cahaya di wajahmu yang penuh bersinar
Tak tergores cacat di wajahmu
Menghiasi malam indah nan syahdu

Rembulan kini telah purnama lagi
Terasa baru kemarin purnama ku bertemu dikau
Sunyi mu selalu menemaniku
Menghiasi malam indah ini

Waktu terus berjalan seolah kau berlari
Rembulan menjadi saksi perjalanan ini
Liku tajam terjal berlalu
Kau tak pernah pergi meninggalkan ku
Wahai bulan begitu setia dirimu dalam bisu

Rembulan kau sahabat setiaku
Dalam angan ku berkata padamu
Dalam sunyi ku bercanda denganmu
Kau tak pernah marah padaku
Kau hanya diam dalam tiap kataku

Seindah mentari

Pagi itu mentari bersinar terang
Tapi mengapa begitu dingin terasa
Ada sesuatu terasa hilang
Apakah itu ku tak tau

Secercah cahaya mentari begitu indah
Tapi ku tak mampu menikmatinya
Ada apakah ini
Sesuatu yang tak ku tahu

Melintas sejenak di alam fikirku
Termenung sejenak teringat sebuah masa
Melihat sesosok yang begitu indah
Melihat kenangan yang telah terlupakan
Kenangan seindah mentari pagi

Segera tiba

sayup subuh terdengar
ku termenung kembali
begitu cepat semua berlalu
tak terasa semua telah pergi

kehangatan alam dikala itu
mengelimuti hati masih tersisa
walau tak akan pernah kembali
itulah waktu tak akan terputar lagi

seuntas kenangan yang telah berlalu
sepotong cerita tentang hidup seorang hamba
sepintas teringat baru kemarin kau datang
selintas terperangah ternyata kau telah tiada

ramadhan tahun lalu ternyata masih dalam kenangan
ramadhan tahun ini telah begitu dekat
ramadhan tahun lalu tak akan terulang lagi
ramadhan tahun ini tak ada yang menjamin ku nikmati

Yang ku nanti

perlahan waktu terus berjalan
tak terasa kini ku berdiri sendiri
menanti waktu yang segera menjemput

dingin pagi tak membuat penantian berakhir
gelap malam tak mengurungkan untuk pergi
terik mentari tak menggoyahkan langkah ini

begitu kuat berada di hati
entah apa ini disebutnya
semangat dan tak kenal menyerah

kini ku menghitung hari penantian
tak ada 2 pekan akan datang yang ku nanti
ya ramadhan aq menantimu

Programer Berpuisi

Ketika algoritmik pemrograman bersatu maka seperti itu lah hati
Lebih rumit dari logika cerdas ataupun fuzzi
Benang kusut bak gambar relation database
Tak tau RDBMS ataupun flat database

Ku menulis dengan notepad ++
Seolah melukis wajahmu seperti array tiga dimensi
Ingin kupecah dengan fecth array
Tapi apadaya memory full

Limit memory ternyata tak sepintar DDR3
Ntah mengapa prosesor terbaru tak mampu memproses command
Atau karena circuit mother board eror
Ingin ku reset saja CMOS supaya memory mu hilang dari qu
Tapi ntah mengapa cassing tidak mau terbuka

Hardisc full juga tidak
RAM cukup
Prosessor masih compotible
Tapi ku tak bisa berfikir hnya satu command yang teringat
virus apa kah ini
atau sedang kena trojan
setahuku antivir masih update kemarin sore

Ya sudahlah memory itu masih di motherboard
Atau mungkin menyisip di salah satu file dalam hardisc
Semoga tidak jadi eror system
Atau setidaknya tetap berjalan walau hank berkali-kali